Popular Posts

Tuesday, September 11, 2012

kajian hadis metode tahlili

KAJIAN HADIS METODE TAHLILI TENTANG SALAH SATU HADIS NABI
 


BAB I
PENDAHULUAN

A.         Latar  Belakang
Dalam memahami sebuah hadis, diperlukan pemahaman terhadap beberapa elemen internal hadis itu sendiri, dimulai dari yang terkecil yaitu kosakata yang digunakan, sampai dengan penjelasan tentang gambaran umum dan menyeluruh terhadap hadis itu.
Oleh karena itu, makalah ini disusun berdasarkan metodologi tahli>li atau analisis, yang diawali dengan syarah kosakata, syarah mufradat, hikmah yang terkandung, serta asba>b al-wuru>d dari sebuah hadis. Dan adapun tema yang akan dianalisis dalam makalah ini adalah sebuah hadis tentang kasih sayang.
Diharapkan hal ini dapat menjadi awal yang baik untuk mengembangkan daya analisis dan pola pikir mahasiswa, terutama dalam memahami sebuah hadis.

B.           Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalah yang akan dijawab dalam makalah ini adalah:
1.      Teks Hadis tentang kasih sayang dan terjemahannya.
2.      Asba>b al-wurud hadis tersebut.
3.      Syarah mufradat yang terkandung dalam hadis tersebut.
4.      Syarah kalimat yang terkandung dalam hadis tersebut dan komentar para ulama tentang hadis tersebut.
5.      Hikmah yang dapat dipetik dari hadis tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

A.          Teks Hadis  dan Terjemahannya

حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري حدثنا أبو سلمة بن عبد الرحمن أن أبا هريرة رضي الله عنه قال : قبل رسول الله صلى الله عليه و سلم الحسن بن علي وعنده الأقرع بن حابس التميمي جالسا فقال الأقرع إن لي عشرة من الولد ما قبلت منهم أحدا فنظر إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال ( من لا يرحم لا يرحم )[1]

Abu> al-Yama>n telah menceritakan kepada kami, Syu’aib telah mengabarkan kepada kami dari al-Zuhri>, Abu> Salamah bin Abdu al-Rah}man telah menceritakan kepada kami bahwasanya Abu> Hurairah ra. berkata, “Nabi mencium cucunya H{asan bin ‘Ali> ketika al-Aqra’ bin H{a>bis duduk di sisinya.” Al-Aqra’ berkata, “Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi tidak ada satu pun yang pernah saya cium.” Beliau menoleh ke arah al-Aqra’ seraya bersabda, ”Barangsiapa yang tidak mengasihi ia tidak dikasihi.”

B.          Syarah Mufradat
1.      قبل
Kata ini berarti mencium.[2] Kata dasarnya terdiri dari 3 huruf yaitu qaf-ba-lam yang berarti muwa>jahatu al-syai' li al-syai'  atau sesuatu yang saling berhadapan.[3] Dari kata dasar ini pulalah lahir kata qiblatun yang berarti arah tempat kita menghadap.
2.      نظر
Makna dasar kata ini adalah ta'ammul al-syai' wa mu’a>yanatuhu> atau menyaksikan sesuatu sembari memikirkannya, atau bisa diartikan melihat disertai dengan proses mengamati dan memperhatikan.[4]
3.      جالسا
Kata di atas berposisi sebagai h}a>lun (menerangkan keadaan), maka ia mansub. Kata tersebut berasal dari kata jalasa yang berarti naik pada sesuatu[5] atau lebih dikenal dengan arti duduk[6]. Namun, dalam bahasa arab ada juga kata lain yang berarti duduk, yaitu qa’ada. Adapun perbedaan di antara keduanya adalah kata  jalasa adalah perpindahan dari tempat yang rendah ke  tempat yang tinggi, sedangkan qa’ada adalah perpindahan dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, maksudnya kata jalasa ditujukan untuk menyuruh duduk orang yang sebelumnya dalam keadaan tidur atau berbaring, sedangkan qa’ada ditujukan kepada orang yang posisinya berdiri.[7]
4.      عشرة
Akar katanya adalah terdiri dari tiga huruf, yaitu ‘ain, syin, dan ra yang berarti bilangan puluhan. ‘asyaratun untuk muzakkar dan ‘asyrun untuk muannas.[8] Dalam Maqa>yis al-Lug}ah, selain berarti bilangan tertentu,  kata ini juga memiliki makna dasar yang lain, yaitu pergaulan dan percampuran. Oleh karena itu dalam al-Quran ada kata ‘asyi>rah yang berarti kerabat atau keluarga contohnya pada QS. Al-Taubah ayat 24, dan juga ada kata ma’syar yang berarti jamaah, golongan, seperti pada QS. al-an’am ayat 130.
5.      أحدا
Kata ini sebenarnya merupakan cabang akar kata waha}da yang artinya apa-apa yang menyendiri atau bisa diartikan satu.[9] Dikenal pula kata wa>hid yang berarti satu. Dua kata tersebut berbeda meskipun sama-sama berarti satu. Kata wa>hid yang berarti satu dan memungkinkan adanya dua, tiga, dan seterusnya, sedangkan kata ah}ad tidak. Selain itu kata wa>h}id bisa dimasuki.[10]
6.      ولد
Kata tersebut bisa diartikan anak ataupun keturunan.[11]
7.      يرحم
Kata tersebut adalah bentuk mudhari dari kata rah}ima yang berarti al-riqqah, al-‘atfu, dan al-ra'fah yang kesemuanya berarti belas kasih.

C.          Asba>b al-Wuru>d
Adapun saba>b al-wuru>d hadis tersebut ada pada hadis itu sendiri, sebagaimana  yang diungkapkan oleh Bukhari, Muslim, dan Ahmad, yang diriwayatkan oleh Abu> Hurairah yaitu al-Aqra’ bin H{abis al-Tam>mi> melihat Nabi mencium cucunya, yaitu H{asan bin ‘Ali>. Kemudian al-Aqra menyatakan bahwa ia memiliki sepuluh orang anak, tetapi ia tidak pernah seklipun mencium anak-anaknya. Pernyataan al-Aqra’ itulah yang kemudian menjadi sebab adanya hadis nabi yang berbunyi “ barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”

D.          Syarah Kalimat
1.      قبل رسول الله صلى الله عليه و سلم الحسن بن علي
Rasulullah saw mencium al-H{asan bin ‘Ali>

Hasan bin ‘Ali> adalah cucu Rasulullah saw. Rasulullah saw mencium cucunya sebagai salah satu bentuk kasih sayangnya terhadap cucunya. Dalam hadis lain juga dijelaskan bahwa Rasulullah suka mencium putra-putrinya.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو أسامة وابن نمير عن هشام عن أبيه عن عائشة قالت قدم ناس من الأعراب على رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالوا أتقبلون صبيانكم ؟ فقال نعم فقالوا لكنا والله ما نقبل : فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم وأملك إن كان الله نزع منكم الرحمة وقال ابن نمير من قلبك الرحمة[12]

“Diriwayatkan dari ‘Aisya>h ra, dia berkata, “Beberapa orang badui datang menemui Rasulullah saw, mereka bertanya, “Apakah Anda suka mencium putra-putri Anda? Beliau menjawab, “Ya. Lalu mereka berkata, “Tetapi kami, demi Allah tidak pernah melakukannya. Beliau bersabda, Celakalah kalian! Jika sampai Allah mencabut rasa kasih saying dari hati kalian.

Mencium seorang anak atau anggota keluarga lain yang termasuk dalam kategori al-mah}a>rim atau orang-orang yang haram dinikahi adalah sebuah hal yang diridai oleh Allah untuk menunjukkan rasa kasih sayang, bukan karena dorongan hawa nafsu. Dibolehkan mencium seluruh tubuh dari seorang anak kecil. Adapun masalah mencium anak yang telah dewasa dan anggota keluarga yang lain, para ulama memberikan keringanan, seperti saat baru kembali dari bepergian jauh, maka boleh menciumnya, sekali lagi ditekankan sebagai bukti kasih sayang, bukan dorongan kesenangan pribadi dan hawa nafsu.

2.      وعنده الأقرع بن حابس التميمي جالسا
Dan al-Aqra’ bin H{abis al-Tami>mi> duduk di sisinya.

Al-Aqra’ bin H{abis al-Tami>mi> adalah seorang muallaf yang telah baik Islamnya. Dia adalah utusan bani Tamim yang datang kepada Rasulullah saw setelah Fath}u Makkah, dan termasuk orang-orang yang terkemuka di kalangan masyarakat jahiliyah dan masyarakat Islam. Salah satu buktinya adalah ketika ‘Abdulla>h bin ‘A>mir mengamanahkannya sebagai tentara persiapan ke  daeah Khurasan.[13]

3.      إن لي عشرة من الولد ما قبلت منهم أحدا
Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi tidak ada satu pun yang pernah saya cium.

Pernyataan di atas dikeluarkan oleh al-Aqra’ bin H{abis al-Tami>mi>, sebagai respon atas kejadian yang dia saksikan, yaitu ketika beliau mencium Hasan bin ‘Ali>. Boleh jadi al-Aqra’ bin H{abis merasa heran dengan sikap Nabi, karena ia sama sekali tak pernah melakukan   seperti apa yang dilakukan oleh Nabi.  
Kata ma> qabbaltu minhum ah}adan di atas, menunjukkan bahwa al-Aqra’ tidak pernah mencium salah seorang pun di antara pun putra-putrinya, baik yang masih kecil ataupun yang sudah dewasa.[14]

4.      فنظر إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال ( من لا يرحم لا يرحم )
Maka Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda: Barangsiapa yang tidak mengasihi ia tidak dikasihi.

Rasulullah saw menoleh karena terkejut atau bahkan marah dengan pernyataan al-Aqra’, lalu kemudian beliau bersabda: man la> yarh}am la> yurh}am.
Susunan kalimat di atas terdiri dari satu kata pokok yang sama yaitu rah}ima-yarh{amu, yang pada frase pertama berbentuk ma’lum, sedangkan pada frase kedua berbentuk majhul, dan baris akhir kedua frase tersebut adalah bisa marfu untuk menunjukkan huruf ma>n adalah mausu>lah, dan bisa pula majzu>m untuk menjadikannya susunan kalimat syart}iyyah.[15] . Di bawah ini dijelaskan beberapa pandangan ulama mengenai hal tersebut.
1.      Al-H{afiz\ bin H{ajar mengatakan bahwa kedua frase tersebut adalah menunjukkan khabar atau sekedar kalimat berita atau pernyataan, sehingga keduanya dibaca rafa, yaitu man la> yarh}amu la> yurh}amu. Dan Iyad berkata bahwa kabar tersebut menunjukkan keumuman lafaznya, meskipun sabab al-wuru>dnya adalah spesifik.
2.      Abu> al-Baqa> mengatakan bahwa huruf man yang ada pada kalimat tersebut adalah man penghubung dan susunan kalimatnya menunjukkan syarat, bahwa siapa yang ingin disayangi, maka syaratnya adalah orang itu harus menyayangi terlebih dahulu. Maka keduanya majzu>m, yaitu man la> yarh}am la> yurh}am.
3.      Al-T{ayyibi>
Dijelaskan bahwa kalimat tersebut bisa marfu>’ dan majzu>m, karena huruf man pada kalimat tersebut bisa berfungsi sebagai mausulah ataupun syurt}iyyah. Dan penggunaan kata yarh}am pada awal kalimat tersebut bertujuan untuk menyamakan dan menyepadankannya dengan kata yurh}am, karena makna sebenarnya adalah barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak, maka ia tidak akan disayangi oleh Allah.

E.           Hikmah-Hikmah 
Adapun hikmah yang dapat dipetik dari hadis tersebut antara lain:
1.      Orang yang tidak mengasihi orang lain, tidak akan dikasihi oleh Allah.
2.      Rasulullah saw adalah orang yang sangat penyayang.
3.      Setiap orang harus siap menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan
Rasulullah saw merupakan orang yang sangat penyayang kepada semua orang, terutama kepada anak kecil. Kasih sayang yang dilimpahkan kepada seorang anak akan memberikan dampak positif bagi perkembangan seorang anak.
Sebagai salah satu wujud rasa syukur manusia atas kasih sayang Allah swt adalah dengan mengasihi sesama makhluk Allah.
Orang yang telah hilang rasa kasih sayang dalam dirinya adalah orang yang celaka. Oleh karena itu, kasih sayang harus senantiasa dijaga dan dipupuk dalam diri manusia.


DAFTAR PUSTAKA


A<ba>di>, Abu al-Tayyib Muh}ammad Syamsu al-H{aq al-‘Az}i>m.Aunul Ma’bu>d Syarh}u Sunan Abi> Da>wud, juz XIV. Cet. II; Beirut: Da>r al-Kutub al-Isla>miyyah, 1415 H.
 ‘Abdu al-Rah}ma>n, Abu> al-‘Ala> Muh}ammad. Tuhfatu al-Ahwaz\i>, juz IV. Kairo: Syirkatu al-Quds li al-Nasyri wa al-Tauz\i>’,  2009.
Al-Ja’fi>, Muh}ammad bin Isma>’i>l Abu> ‘Abdilla>h al-Bukha>ri>. S}ah}i>h al-Bukha>ri>, juz V. Cet. III; Beirut: Da>r Ibnu Kas\i>r, 1987.
Al-Mis}ri>, Muh}ammad bin Mukrim bin Manz}u>r al-Afri>qi>. Lisa>n al-‘Arab, juz IV.  Beirut: Da>r S{adir, t.th.
Al-Ni>sabu>ri>, Muslim bin al-H}ajjaj> Abu> al-H}usain al-Qusyairi>.  S}ah}i>h Muslim, juz IV. Beirut: Da>r Ihya>i al-Tura>s\ al-‘Arabi>, t.th.
Al-Qa>ri>', Al-Mala> ‘Ali. Marqa>tu al-Mafa>ti>h Syarh}u Misyka>ti al-Mas}a>bi>hi, Juz VIII. Cet. I; Beirut: Da>r al-Fikr, 1992.
Al-‘Askari>, Abu> Hila>l. al-Furu>q al-Lug}awiyah, juz I.
Baalbak,  Rohi. Al-Maurid a Modern Arabic-English Dictionary. Cet. VII, Beirut: Da>r al-‘Ilmi lil Mala>yi>n, 1995.
Bisri, Adib dan Munawwir AF. Kamus al-Bisri. Cet. I; Surabaya: Pustaka Progressif, 1999.
Ibnu Zakariyya>, Abu> al-H}usain Ah}mad bin Fa>ris. Maqa>yis al-Lug}ah, juz I dan juz V. t.t: Ittih}a>d al-Kita>b al-‘Arab, 2002.




[1]Muh}ammad bin Isma>’i>l Abu> ‘Abdilla>h al-Bukha>ri> al-Ja’fi>, S}ah}i>h al-Bukha>ri>, Juz V (Cet. III; Beirut: Da>r Ibnu Kas\i>r, 1987), h. 2235.
[2]Adib Bisri dan Munawwir AF, Kamus al-Bisri  (Cet.; Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), h. 583.
[3]Abu> al-H}usain Ah}mad bin Fa>ris bin Zakariyya>, Maqa>yis al-Lug}ah, Juz V (t.t.: Ittih}ad al-kita>b al-‘Arab, 2002), h. 42.               
[4]Ibid., h. 356.       
[5] Abu> al-H}usain Ah}mad bin Fa>ris bin Zakariyya>, Op. Cit., Juz I, h. 421.
[6] Adib Bisri dan Munawwir AF, Op. Cit., h. 79.
[7]Abu> Hila>l al-‘Askari>, al-Furu>q al-Lug}awiyah, Juz I (t.d.), h. 164.
[8]Muh}ammad bin Mukrim bin Manz}u>r al-Afri>qi> al-Mis}ri>, Lisa>n al-‘Arab, Juz IV ( Beirut: Da>r S{adir), h. 568.
[9]Abu> al-H}usain Ah}mad bin Fa>ris bin Zakariyya>, Op. Cit., h. 85.
[10]Abu> Hila>l al-‘Askari>, al-Furu>q al-Lug}awiyah, Juz I (t.d.), h. 565-566.
[11]Rohi Baalbaki, Al-Maurid a Modern Arabic-English Dictionary  ( Cet. VII, Beirut: Da>r al-‘Ilmi lil Mala>yi>n, 1995), h. 1247.
[12] Muslim bin al-H}ajjaj> Abu> al-H}usain al-Qusyairi> al-Ni>sabu>ri>, S}ah}i>h Muslim, Juz IV (Beirut: Da>r Ihya>i al-Tura>s\ al-‘Arabi>, t.th.), h. 1808.
[13] Al-Mala> ‘Ala> al-Qa>ri', Marqa>tu al-Mafa>ti>h Syarh}u Misyka>ti al-Mas}a>bi>hi, Juz VIII (Cet. I, Beirut: Da>r al-Fikr, 1992), h. 459.
[14] Abu> al-‘Ala> Muh}ammad ‘Abdu al-Rah}ma>n bin ‘Abdi al-Rahi>m, Tuhfatu al-Ahwaz\i>, Juz IV (Kairo: Syirkatu al-Quds li al-Nasyri wa al-Tauz\i>’, 2009), h. 531.
[15]Muh}ammad Syamsu al-H{aq al-‘Az}i>m A<ba>di> Abu> al-T{ayyib, ‘Aunul Ma’bu>d Syarh}u Sunan Abi> Da>wud, Juz 14 (Cet. II; Beirut: Da>r al-Kutub al-Isla>miyyah, 1415 H), h. 87.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment